Aroma Hujan di Ujung DermagaDermaga kecil di pesisir itu tidak banyak berubah. Maya melangkah pelan di atas papan kayu yang mulai rapuh. Bau air laut bercampur aroma kopi hitam dari warung Pak Hasan menyambutnya. Angin sore meniup helai rambutnya.Tujuh tahun ia pergi merantau ke ibu kota. Ia mengejar pangkat, uang, dan gedung-gedung tinggi. Namun, dadanya terasa kosong setiap kali hujan turun di balik kaca apartemennya. Ia rindu suara ombak yang menghantam tiang dermaga."Maya?" panggil suara parau dari belakang.Maya menoleh. Pak Hasan berdiri membawa secangkir kopi. Wajah pria tua itu semakin berkerut, tetapi senyumnya tetap sama hangatnya seperti dulu. Maya tersenyum lebar dan menyalami tangan yang kasar itu."Sudah besar ya kamu sekarang," kata Pak Hasan sambil menunjuk bangku kayu di depan warungnya.Mereka duduk bersama. Maya menceritakan lelahnya hidup di kota besar. Tentang rapat yang tidak ada habisnya dan ambisi yang menggerus waktu. Pak Hasan hanya mendengarkan sambil menyeruput kopinya dengan tenang. "Laut tidak pernah menuntut kapal untuk menjadi cepat, Nak," ucap Pak Hasan pelan. "Laut hanya meminta kapal tahu kapan harus berlayar dan kapan harus pulang ke dermaga."Kata-kata itu menusuk dada Maya. Air mata hangat menetes di pipinya. Selama ini ia terus berlari tanpa tahu apa yang sebenarnya ia kejar. Ia merasa damai di sini, di bawah langit senja yang mulai jingga.Maya memutuskan untuk tinggal lebih lama. Ia sadar, rumah bukan sekadar bangunan megah di kota, melainkan tempat di mana hatinya tidak lagi merasa harus berlari.Aroma Hujan di Ujung DermagaDermaga kecil di pesisir itu tidak banyak berubah. Maya melangkah pelan di atas papan kayu yang mulai rapuh. Bau air laut bercampur aroma kopi hitam dari warung Pak Hasan menyambutnya. Angin sore meniup helai rambutnya.Tujuh tahun ia pergi merantau ke ibu kota. Ia mengejar pangkat, uang, dan gedung-gedung tinggi. Namun, dadanya terasa kosong setiap kali hujan turun di balik kaca apartemennya. Ia rindu suara ombak yang menghantam tiang dermaga."Maya?" panggil suara parau dari belakang.Maya menoleh. Pak Hasan berdiri membawa secangkir kopi. Wajah pria tua itu semakin berkerut, tetapi senyumnya tetap sama hangatnya seperti dulu. Maya tersenyum lebar dan menyalami tangan yang kasar itu."Sudah besar ya kamu sekarang," kata Pak Hasan sambil menunjuk bangku kayu di depan warungnya.Mereka duduk bersama. Maya menceritakan lelahnya hidup di kota besar. Tentang rapat yang tidak ada habisnya dan ambisi yang menggerus waktu. Pak Hasan hanya mendengarkan sambil menyeruput kopinya dengan tenang. "Laut tidak pernah menuntut kapal untuk menjadi cepat, Nak," ucap Pak Hasan pelan. "Laut hanya meminta kapal tahu kapan harus berlayar dan kapan harus pulang ke dermaga."Kata-kata itu menusuk dada Maya. Air mata hangat menetes di pipinya. Selama ini ia terus berlari tanpa tahu apa yang sebenarnya ia kejar. Ia merasa damai di sini, di bawah langit senja yang mulai jingga.Maya memutuskan untuk tinggal lebih lama. Ia sadar, rumah bukan sekadar bangunan megah di kota, melainkan tempat di mana hatinya tidak lagi merasa harus berlari.